Sekitar tahun 1995, waktu masih duduk dibangku SMU Negeri 2 Madiun, pernah diajak oleh dua orang teman untuk mengikuti sebuah acara Napak Tilas Pasukan Siliwangi dalam rangka memberantas gerakan PKI yang ada di wilayah Magetan. Ajakan itu disampaikans epulang sekolah, kira-kira pukul 12:30 sedangkan acara tersebut akan dilaksanakan mulai dari Sarangan, sekitar 40 kilometer dari Madiun, sekitar pukul 15:00. Sebuah ajakan yang sangat mepet sekali, mengingat pada waktu itu masih belum memiliki kendaraan sendiri atau sponsor gratis yang mau mengantarkan dengan gratis ke lokasi.
Setelah pulang ke rumah dan meminta ijin untuk mengikuti acara Napak Tilas Pasukan Siliwangi di Sarangan, dan ternyata mendapatkan ijin dari, maka bertiga segera mencari angkutan umum yang akan mengantarkan sampai ke terminal Magetan. Dari terminal Magetan, kemudian berganti dengan angkutan umum berjenis station wagon dengan tujuan Telaga Sarangan. Tiba di terminal Sarangan, segera menuju tempat pendaftaran dan mendaftarkan diri sebagai peserta Napak Tilas Pasukan Siliwangi yang akan menempuh perjalanan sekitar 50 kilometer, mulai dari Telaga Sarangan sampai Desa Bendo, masuk Kecamatan Maospati atau Takeran saya kurang ingat. Saya juga sudah tidak bisa mengingat, apakah pendaftaran acara tersebut berbayar atau gratis. Daya ingat saya memang sudah mulai bertambah parah ketika menginjak usia 23 atau 24 tahun.
Melihat dari spanduk yang mengatakan bahwa rute yang akan ditempuh adalah 50 kilometer sempat membuat hati ragu-ragu untuk mengikutinya, karena jarak sebegitu jauhnya harus ditempuh dengan berjalan kaki. Tetapi mengingat bahwa jarak Madiun ke Telaga Sarangan hanya 40 kilometer, kemudian terpikir bahwa itu tidak mungkin, karena melihat posisi Desa Bendo adalah tepat berada di belakang Lapangan Udara Iswahyudi yang masuk kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan.
Peserta Napak TIlas Pasukan Siliwangi tersebut ternyata sangatlah banyak, bahkan juga ada seorang bapak-bapak yang waktu itu mengaku berumur lebih dari 60 tahun dengan hanya membawa sebuah tas kecil berisi air minum dengan mengenakan sepatu yang tampak sangat butut. Akhirnya ngobrol dengan bapak tua tersebut, yang menceritakan bahwa ketika masih muda ikut perjuangan bersama Jenderal Sudirman. Cerita tersebut tak berlangsung lama, karena panitia sudah mengumumkan bahwa acara Napak Tilas Pasukan Siliwangi akan segera dimulai dan untuk para peserta diminta untuk bersiap digaris start.
Setelah bendera start diayunkan, saya lupa Napak Tilas Pasukan Siliwangi tersebut diberangkatkan oleh siapa, para peserta yang berada didepan segera berjalan bahkan tak sedikit yang memulainya dengan berlari kecil. Sampai dijalan menurun yang biasa disebut jalan lama untuk sampai ke Telaga Sarangan, atau biasa disebut dengan Ngerong, rombongan saya masih bisa mengikuti bapak tua yangs aya ceritakan sebelumnya. Tetapi begitu sudah lepas dari jalan menurun tersebut, terlihat bahwa kemampuan bapak tua tersebut jauh diatas kami yang pada saat itu masih berusia sekitar 17 tahun. Langkahnya terayun dengan ringan sekali, terus menyalip peserta yang ada didepan, sedangkan saya bersama dua orang teman yang mengikuti Napak Tilas Pasukan Siliwangi tersebut justru banyak disalip oleh peserta yang berangkat dibelakang.
Rute yang diambil ternyata bukanlah jalan besar yang menghubungkan Maospati dengan Telaga Sarangan, tetapi menempuh jalan desa yang terkadang masih berbatu dan berdebu. Pada saat itu, saya masih tetap berpikiran bahwa rute yang akan ditempuh tidak akan sampai 50 kilometer, dan pembelokan jalur ini hanyalah rekayasa panitia untuk lebih memperpanjang jarak tempuh Napak Tilas Pasukan Siliwangi ini.
Gelap mulai datang, rumah-rumah penduduk yang dilewati rute Napak Tilas Pasukan Siliwangi, mulai terang. Pada waktu itu, seingat saya, masih banyak rumah yang belum menggunakan listrik. Beberapa rumah menyediakan meja dipinggir jalan, berisi makanan tradisional serta minuman. Makanan tradisional yang disediakan dimeja, rata-rata adalah umbi-umbian yang direbus lengkap dengan minuman, ada yang menyediakan air putih dan ada pula yang menyediakan teh hangat. Yang mengejutkan bagi saya dan teman-teman yang baru pertama kali ikut dalam Napak Tilas Pasukan Siliwangi tersebut adalah semua makanan serta minuman yang tersedia tersebut disediakan secara gratis bagi peserta. Dan sepertinya makanan serta minuman yang disediakan secara gratis tersebut adalah memang swadaya dari masyarakat yang mungkin merasa senang dengan adanya acara tersebut, maka desa mereka menjadi ramai dengan dilewati oleh ratusan atau bahkan mungkin ribuan peserta Napak Tilas Pasukan Siliwangi. Hampir diseluruh rute, para penduduk berdiri di pinggir jalan untuk melihat arak-arakan tak ubahnya seperi sedang melihat karnaval yang digelar untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Ketika sudah benar-benar malam sampailah pada salah satu pos dari acara ini, yang mengambil tempat disebuah monumen kecil untuk memperingati penumpasan PKI oleh Pasukan Siliwangi, saya tidak ingat dimana letak lokasinya, karena memang daya ingat saya yang sudah tidak terlalu bagus. Cuma sedikit yang saya ingat itupun juga kalau tidak salah, lokasinya ditengah hutan.
Setelah istirahat beberapa waktu di monumen tersebut, melanjutkan perjalanan yang semakin gelap, melewati hutan dan mungkin perbukitan karena jalannya naik turun dan sama sekali tidak ada penerangan. Hanya diterangi oleh sinar bulan, dan terkadang diselingi suara nyanyian penyemangat dari rombongan peserta yang berasal dari TNI Angkatan Udara yang mengenakan seragam lengkap dengan sepatunya yang terlihat berat, dengan membawa senapan laras panjang. Kami bertiga pada waktu itu merasa sudah sangat capak sekali, dan terpaksa tidur dipinggir jalan supaya tidak terinjak sepatu para peserta dari TNI Angkatan Udara, maupun peserta yang lain. Kaki terasa sudah lemas, mata juga semakin tak kuat menahan kantuk.
Tidak tahu berapa lama kami tertidur, yang pasti rombongan peserta yang menyusul dari belakang masih belum terputus dan masih terus berdatangan. Melihat masih banyaknya peserta yang ada dibelakang, segera bangun dan melanjutkan perjalanan ke garis finish setelah sebelumnya duduk-duduk sambil mengumpulkan jiwa yang terbang selama tertidur.
Jalan dan terus jalan walaupun kaki sudah terasa lemas dan seperti tanpa tulang, sampai akhirnya masuk kedalam parkiran kereta pengangkut tebu Pabrik Gula Rejosari yang ada diwilayah kecamatan Takeran. Sampai disitu rasanya kaki sudah berat untuk melangkah, lecet-lecet diujung jari juga sudah semakin terasa perih, dan diputuskan untuk istirahat di gubuk-gubuk yang tersedia disana. Dan pada saat istirahat itu, ternyata malah sampai pada yang namanya proses tidur dengan nyenyak dan sudah tidak peduli lagi dengan suara-suara peserta yang melewati gubuk-gubuk tersebut.
Begitu terbangun dari tidur nyenyak tersebut, ternyata telah banyak juga para peserta yang kandas ditempat tersebut dan sedang mengantri untuk mencari tumpangan ke jalan besar yang ada di Maospati yang dilewati bus antar kota maupun antar propinsi. Melihat dari kondisi yang sudah sangat tidak mungkin untuk mencapai garis finish, dikarenakan matahari juga mulai menyemburat merah di langit timur, akhirnya diputuskan untuk ikut antrian mencari tumpangan, dan berjanji tahun depan akan ikut lagi dan menuntaskannya sampai finish.
Ternyata penderitaan belum berakhir, dalam truck yang kami tumpangi secara gratis bersama rombongan peserta yang gagal masuk finish, kaki yang lecet masih saja terinjak ketika tiba-tiba truck mengerem yang mengakibatkan segerombolan orang-orang gagal tersebut terseret secara bergerombol ke depan.
Sampai dirumah dengan muka memelas meminta ijin untuk tidak masuk sekolah, karena memang kaki rasanya sudah tidak kuat untuk mengayuh sepeda ke sekolah. Setelah ijin untuk tidak masuk sekolah didapat, maka dimulailah ritual tradisional untuk menyembuhkan kaki yang pegal-pegal setelah berjalan jauh, yaitu dengan membalurnya dengan nasi kemaren dicampur dengan asam dan ditambah dengan sedikit air, dan segera mencari tempat untuk tidur yang nyaman. Tidak perlu mandi, karena badan akan bertambah pegal setelah mandi.
Pada Napak Tilas Pasukan Siliwangi selanjutnya atau pada tahun 1996, akhirnya saya berhasil sampai pada lapangan yang dipergunakan sebagai tempat finish acara tersebut, sesuai dengan apa yang telah kami bertiga cita-citakan sebelumnya, sedangkan kedua teman saya (mungkin) sampai saat ini tidak pernah mencapai garis akhir napak tilas tersebut. Tetapi yang sangat mengecewakan adalah, pada tahun 1996 tersebut saya tidak mengikuti Napak Tilas Pasukan Siliwangi yang start dari Telaga Sarangan dan hanya naik motor bersama teman-teman yang lain untuk melihat suasana di garis finish.
Dikarenakan daya ingat saya yang lemah, mungkin banyak detil cerita yang kurang lengkap, bahkan saya juga tidak ingat apakah acara napak tilas tersebut adalah untuk mengenang perjalanan perjuangan yang dilakukan oleh Pasukan Siliwangi atau Pasukan Diponegoro. Dan sampai sekarang, saya juga tidak mengetahui apakah acara tersebut masih terus diselenggarakan atau malah sudah hilang.





















on Jul 17th, 2008 at 6:45 pm
Top markotop…saya lum pernah jalan dari Magetan ke Sarangan…
Btw, trackback URL nya salah…makanya ndak masuk…
mestinya… http://iwan-ae.info/worthing/kontes-blogging/
on Jul 17th, 2008 at 7:13 pm
Aku baru tau obat capek itu nasi kemaren dicampur asam. Manjur ya?
on Jul 17th, 2008 at 9:09 pm
50 km perlu tekad untuk nyeleseinnya selain fisik
salutt..
on Jul 17th, 2008 at 10:40 pm
Wah jauh juga ya, postingannya juga napak tilas sampai capek bacanya. Btw te o pe dech.
on Jul 18th, 2008 at 6:30 am
50KM ??? wow, mukelu jauh banget tuh…… hehehehe, butuh waktu dan kemauan yang besar..
on Jul 18th, 2008 at 7:54 am
@ Rystiono : saya sudah coba menggunakan link itu, tapi juga tidak masuk trackback, akhirnya coba modifikasi dari koment, ternyata juga tidak masuk…
@ tini : itu ramuan tradisional warisan nenek moyang, manjur bagi keluarga saya dan saya tidak berani untuk memastikan bahwa akan manjur untuk orang lain
@ tanahsirah : iya, panjang banget tulisannya, saya juga capek nulisnya.
@ Raffael : masih deket dengan leher, kekuatan fisik juga mutlak diperlukan.
on Jul 18th, 2008 at 12:49 pm
yang saya ambil hikmah dari cerita ini adalah daya ingat masnya yang sangatlah parah. Oh ya saya juga lupa… ini mas ato mbak ya? Maklum, saya juga parah
on Jul 18th, 2008 at 2:06 pm
Hayah, berarti sangat tidak sesuai dengan tema kontes donk…
on Jul 19th, 2008 at 9:34 am
magetan dan gunung lawu memberi sensasi khusus tentang para pahlawan siliwangi saat kita menapaki setiap jengkal jalannya…
on Jul 20th, 2008 at 1:06 pm
Mbaknya dulu ikut berjuang bersama Pasukan Siliwangi di Magetan?
Berarti bener yang saya tulis, yaitu Pasukan Siliwangi dan bukan Pasukan Diponegoro?
on Aug 25th, 2008 at 11:39 am
Thanks to the article, Now there is more reason to comment than ever before! Everyone should participate. I am incorporating what your wrote to our project!