Hampir setiap hari hujan mengguyur Sidoarjo, tanpa kenal waktu, bisa pagi, siang ataupun malam, tanpa pernah peduli bahwa daya tampung sungai dan selokan sudah mencapai ambang batas, tidak juga memperhatikan bahwa daya resap tanah yang sebagian besar tertutup aspal, semen dan beton sudah semakin berkurang daya resapnya. Pada musim hujan kali ini, memang saya tidak menulis hujan pertama seperti posting terdahulu, karena semangat kedatangan hujan kali ini sudah tidak seperti yang dulu, dimana pada waktu itu masih merasakan Sidoarjo sebagai sebuah kota yang tidak nyaman, dan sering muncul ketidakpuasan atas sebuah keputusan yang mengharuskan meninggalkan Madiun. Tapi memang beginilah nasib seorang PNS gondrong yang hanya menjabat sebagai pelaksana pada sebuah departemen yang harus siap dengan resiko pindah kota untuk dapat tetap menikmati gaji serta tunjangan yang diberikan. Lha kalau saya nekat bertahan di Madiun, terus siapa yang mau membayar gaji serta tunjangan, mau dikasih makan apa anak dan istri?
Halah, lha kok malah ngelantur gak jelas.
Cerita menikmati banyak jalan di Sidoarjo yang tergenang air hujan, dimulai ketika mengantarkan seorang ibu yang sedang hamil dengan usia kandungan sekitar 9 bulan pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan rutin, serta melihat rumah bersalin yang akan digunakan untuk melahirkan sang jabang bayi, yang kemungkinan waktunya sudah tidak lama lagi. Berangkat dari rumah sekitar 18:30, untuk menghindari antrian yang terlalu panjang di dokter kandungan yang mulai buka pada pukul 19:00. Berangkat dari rumah bersama badak ijo, cuma gerimis kecil dan jarang. Ketika sampai ditempat praktek dokter kandungan, gerimis itu sudah mulai lebih cepat dan lebih sering tapi belum layak untuk disebut sebagai hujan.
Setelah berada di tempat praktek dokter kandungan selama kurang lebih satu jam dan menyelesaikan semua urusan disana, hujan sudah mulai lebat. Tetapi karena perut sedang lapar dan ada keperluan untuk menemui seorang penjual sate, gule, tongseng dan tengkleng yang biasa berjualan di GOR Gelora Delta, untuk memastikan bahwa pesanan yang telah dilakukan terdahulu mungkin akan dilaksanakan sekitar pertengahan atau akhir bulan ini. Sang penjual makanan dengan bahan dasar daging kambing tersebut, ternyata tidak berjualan. Entah sedang libur atau cuti, saya tidak tahu.
Hujan semakin deras, mulai banyak jalanan tergenang air hujan. Badak ijo terus melaju menuju sebuah rumah bersalin, dengan banyak membelah air yang menggenangi aspal dengan ketinggian berkisar antara 5-15 centimeter. Dua bocah yang menyertai perjalanan ditengah hujan deras tersebut, salah satunya sudah tertidur dipangkuan ibunya, sedang yang satu masih menikmati lagu-lagu yang keluar dari radio dengan chanel yang tidak pernah berubah dari sebuah radio musik di Surabaya. Sampai di rumah bersalin, ibu hamil turun sendirian untuk melihat lokasi dan sedikit ngobrol dengan para perawat yang ada disana, sedangkan saya menunggu diluar bersama 2 bocah yang satunya telah tertidur dengan lelap.
Perjalanan dilanjutkan untuk membeli makanan sebagai makan malam dirumah, kedua bocah telah terlelap. Sebelum pasar besar Sidoarjo, badak ijo berbelok ke kiri menuju tempat yang berjualan Chinesse Food, dan didepan telah menghadang sebuah genangan air hujan setinggi 40-60 centimeter, dengan jarak kurang lebih 100 meter. Dengan perlahan tapi pasti, badak ijo membelah genangan air tersebut dan sampai dengan selamat di penjual Chinesse Food. Beberapa motor bebek tidak berani untuk menyeberangi genangan tersebut, karena bisa dipastikan ketinggian air akan mencapai atau melebihi tempat busi, dan sangat beresiko mesin akan mati ditengah jalan. Setelah pesanan selesai, badak ijo kembali bermain hujan dan beberapa kali harus berenang pada kubangan air sedalam 40-60 centimeter.
Setelah melalui berbagai rintangan berupa kubangan air di jalanan Sidoarjo, mampir sebentar ke sebuah toko untuk membeli peralatan perang, rokok maksudnya, dan kembali ke rumah dengan selamat.
Saya tidak menyebut kata banjir, karena genangan tersebut hanya dibeberapa bagian tempat saja dan sepertinya tidak sampai masuk kedalam rumah penduduk yang bermukim di sekitarnya. Untung jalan-jalan pake badak ijo, yang mampu untuk menaklukkan tantangan berupa genangan air, kalau menggunakan sapi biru maka harus pikir-pikir dulu antara tidak keluar rumah atau berteduh di emperan toko bersama pengemudi motor lain untuk menghindari hujan yang sangat deras. Lagian, bawa 1 orang hamil ditambah 2 bocah, sapi biru sepertinya sudah penuh sesak dan sangat sulit untuk dikendalikan. Kalau hanya untuk genangan setinggi itu, saya masih yakin dengan kemampuan sapi biru.
Untuk Pemerintah Daerah Kabupaten Sidoarjo atau dinas yang terkait masalah drainase atau tata kota, mungkin ada tanggapan mengenai banyaknya genangan air yang banyak terjadi di jalan Sidoarjo? Karena keadaan seperti ini saya yakin sangat mengganggu baik bagi pemakai kendaraan bermotor sebagai pemakai jalan, maupun penduduk yang berada pada sekitar daerah genangan tersebut.
















on Mar 6th, 2009 at 5:29 pm
Lingkunganku tambah parah om..
Lha piye tho?
on Mar 6th, 2009 at 5:56 pm
waduh, lingkungan saya juga makin semrawut..
Cuma semenjak mau pemilu sudah mulai ada perbaikan, dasar…
Kayanya pemerintah sidoardjo itu udah mau pensiun deh…
Pensiun dan digantikan oleh tenaga muda dan baru. Apakah yang muda mau tanggap dengan situasi ini?
on Mar 6th, 2009 at 6:55 pm
Jakarta juga sama mas…di kolong jembatan casablanca kemari tergenang 60 cm…
Wew, apakah ini memang wajar terjadi di kota besar??? Tapi kayaknya Sidoarjo bukan kota besar….
on Mar 7th, 2009 at 11:56 am
emang menjelang penghabisan musim hujan ini, hujan malah semakin tbh byk dan deras… dihabis-habisin x ya.. hehe
moga2 aja sukodono gak banjir ya… secara baru aja dibeli tuh rumah…
btw met nunggu kelahiran anak ke-3 ya ? smoga lancar dan selamat, amin. 
Sepertinya daerah barat, lebih tinggi Mas, jadi kemungkinan besar masih aman.
on Mar 7th, 2009 at 2:59 pm
laporan diterima bosssssss
kembali ke tempat
on Mar 8th, 2009 at 12:10 am
@Narmadi
kolong cassablanca mah jangan ditanya mas, buat miara lele juga idup tuh wkwkwk
Kalau gurame, gimana Mas?
on Mar 8th, 2009 at 7:28 am
wah, becek becek malah iso nggo dolanan bocah bocah om, hehe
Malem-malem, Ray. Bikin masuk angin
on Mar 9th, 2009 at 4:14 pm
Wah lubang dan lubang…dimana-mana ada…ini adalah penyakit jalan yang selalu menjadi momok di musim pengujan…untuk Mas Sapi sudah punya badak Ijo…jadi nggak terlalu kawatir…la…aku masih pakai bebek…sedih banget kalau harus melewati genangan air setinggi itu….
Karena sedang bawa istri dan anak, Mas. Kalau tidak, saya juga masih biasa pake sapi biru.