Seperti yang telah saya janjikan pada blog sapimoto yang lain melalui posting kemarin sore, maka disinilah saya akan menceritakan sebuah kisah tentang Sang Penguras Tandon Air. Kalau terlalu lama ditunda, nanti malah kelupaan dan akhirnya justru sama sekali tidak sempat untuk menulisnya. Setelah hampir satu minggu, air PDAM sama sekali tidak mau mengalir mengisi ruang-ruang air yang berada di sebuah rumah dimana aku tinggal bersama keluarga di Sidoarjo, karena adanya salah satu sumber air yang mengalami sedikit kerusakan dan memerlukan perbaikan, seperti yang telah saya posting minggu lalu.
Cerita dimulai ketika pada hari Sabtu kemarin, para tetangga sudah mendapatkan aliran air bersih dari PDAM yang menandakan bahwa perbaikan pada kerusakan yang terjadi telah berhasil diatasi. Walaupun para tetangga di lingkungan perumahan telah mendapatkan air dari PDAM, tidak demikian dengan yang terjadi di rumah tempat aku menumpang, tak ada setetes pun air yang berhasil menembus masuk, dan terpaksa tetap menggunakan jasa penjual air keliling untuk memenuhi kebutuhan air bersih untuk kelangsungan hidup berumah tangga. Mulai hari Rabu minggu yang lalu, sejak tandon air yang berfungsi sebagai cadangan kebutuhan air kosong tak mendapat jatah air yang seharusnya, maka diperlukan jasa penjual air keliling yang harganya bervariasi untuk tiap jerigen berisi 35 liter air bersih, mulai dari seribu empat ratus rupiah sampai dengan dua ribu rupiah. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang beranggotakan tiga orang dewasa serta dua anak terhadap air bersih, paling tidak diperlukan sedikitnya 10 jerigen air, itupun belum termasuk kegiatan mencuci pakaian kotor.
Pada hari Minggu, seorang tetangga mengeluhkan kepada petugas keamanan perumahan yang sedang berpatroli bahwa air PDAM yang keluar sangat kotor dengan warna kecoklatan. Tetangga depan rumah itu manggambarkan air PDAM yang keluar itu seperti kolak, saya pun ikut nimbrung dalam obrolan tersebut dan mengatakan bahwa saya malah sama sekali tidak kebagian air sama sekali. Sepertinya memang ada yang tidak beres pada keadaan yang sedang terjadi, dimana para tetangga sudah mendapatkan air kolak sedangkan tempat saya sama sekali tidak kebagian setetespun.
Baru pada kemarin siang, ibu dari kedua bocah yang tinggal di sebuah rumah yang sudah satu minggu mengalami kekeringan, mendatangi kantor PDAM untuk melakukan pengaduan terhadap penderitaan yang sedang dialami. Kenapa harus datang ke kantor dan tidak menghubungi layanan pengaduan PDAM? Pengaduan melalui telepon sudah dilakukan , dan tidak ada tanggapan positif yang membuat suasana menjadi lebih baik. Pengaduan langsung dengan mendatangi kantor PDAM tersebut, ternyata langsung mendapatkan tanggapan positif dengan datangnya dua petugas dari PDAM untuk memeriksa apakah telah terjadi kesalahan pada jaringan, sehingga ada satu rumah yang tidak kebagian air.
Mendapat kabar datangnya dua petugas PDAM datang ke rumah, segera saya meluncur ke TKP dan meninggalkan semua kegiatan yang sedang saya lakukan dikantor. Sampai di TKP, air sudah dengan derasnya mengucur dari kran yang dibuka, serta mengisi tandon air yang sudah sangat kehausan. Salah satu petugas tersebut menjelaskan bahwa telah terjadi kemacetan pada klep yang ada pada alat pengukur, sehingga air tidak dapat mengalir masuk ke bagian setelah alat pengukur tersebut. Juga dikatakan bahwa untuk memperbaiki kerusakan tersebut cukup mudah, yaitu dengan memukul agak keras dengan benda yang keras juga pada sebuah alat yang menyerupai benjolan yang terdapat pada pipa setelah alat pengukur pemakaian air.
Sebelum petugas itu pergi, saya sempat bertanya jika terjadi kasus seperti itu lagi, apakah saya boleh melakukan tindak kekerasan terhadap klep tersebut, dengan kalem dan disertai senyum kecut petugas tersebut mengatakan boleh. Saya ucapkan terimakasih kepada kedua petugas itu, ketika mereka berpamitan untuk kembali ke kantor.
Terdengar sayup-sayup dari kejauhan Tasya sedang bernyanyi,”Air telah tiba, air telah tiba…”
Karena tulisan ini sudah terlalu panjang, maka akan dilanjutkan dengan tulisan tentang Jasa Kuras Tandon Air.




















on Jul 2nd, 2008 at 1:11 pm
njenengan bener mas, tulisan nya emang panjang, tapi aku tetep mbaca walau terkesot-kesot
on Jul 2nd, 2008 at 2:22 pm
Karena jika kalau terlalu panjang, kasihan ibu-ibu…
on Jul 2nd, 2008 at 3:52 pm
aduh mas, selamat ya, udah gak ngecer lagi aernya…
qqq…
on Jul 2nd, 2008 at 5:51 pm
karna tulisannya panjang..jadi alangkah bijaksananya kalo saya komeng dulu baru baca…
okeh..
saya mo baca dulu..
jangan ganggu..!
on Jul 2nd, 2008 at 6:17 pm
@ mierz : sip, salah satu kebutuhan hidup telah terpenuhi…
@ tc : silahkan…
on Jul 2nd, 2008 at 8:20 pm
pesan moralnya!
betapa berharganya air!
jangan menyia-nyiakan air,walau itu cuma setetes!
on Jul 3rd, 2008 at 7:35 am
Terimakasih, Trendy…