Hari ini bisa dibilang merupakan hari bangun paling pagi setelah selama hampir tiga bulan ini tidak pernah bangun pagi. Bukan karena terpaksa atau alasan lain, tetapi karena ada sebuah janji dengan seorang cewek untuk mengantarnya ke bandara Juanda. Cewek itu adalah ibu dari kedua bocah mungil yang aku sayangi. Setelah selesai melakukan ritual mandi beserta semua acara yang terkandung didalamnya, kemudian ganti baju, pake sepatu, cek segala keperluan yang harus dibawa, dan berangkatlah kami bertiga. Kok bertiga? Ya, bocah mungilku yang sekarang jadi pengangguran alias tidak bersekolah gara-gara ikut orang tuanya pindah ke Sidoarjo, memaksa untuk ikut karena ingin melihat yang namanya bandara, selama ini belum pernah melihat bandara untuk penerbangan penumpang. Tapi kalau pangkalan pesawat tempur, dia sudah sering lihat waktu masih tinggal di Madiun dan diajak pergi bapaknya ke Sarangan atau makan di Sentra Ayam Panggang Nggandu.
Bertiga, kami susuri jalanan Sidoarjo ke arah Surabaya yang sangat macet dan penuh sesak dengan para pekerja berangkat ke tempat tugas, para remaja berangkat ke sekolah serta tak lupa truk-truk besar yang entah sedang membawa apa dalam baknya yang besar. Terkadang sepeda motor yang kami naiki, harus benar-benar berhenti, karena tidak adanya ruang gerak sama sekali.
Mendapat jadwal penerbangan pukul 07:45, tanpa saya tahu pesawat apa yang akan ditumpangi. Dalam perjalanan sampai pada pintu masuk bandara Juanda lama, telepon cewek tersebut berbunyi dan ada kabar yang masuk bahwa teman-teman seperjalanan ke Jakarta sudah melakukan check in. Segera saja sepeda motor dikebut melewati jalan yang belum pernah dilewati, menuju bandara Juanda baru yang agak lebih ke utara disbanding dengan yang lama. Walaupun sedang terburu-buru, dua traffic light yang sedang menyala merah tetap wajib untuk dipatuhi, menunjukkan seorang pengguna jalan yang tertib pada aturan lalu lintas. Read The End Of This Entry
Pasti dari sekian banyak pengguna jalan, pernah merasakan yang namanya berurusan dengan polisi khususnya polisi lalu lintas. Mulai dari karena melanggar peraturan lalu lintas atau karena memang jalan yang dilalui sedang diadakan razia. Pada saat menghadapi atau berurusan dengan polisi lalu lintas, tentu terlintas dalam pikiran nih polisi hanya cari duit
di internet atau tuh polisi sedang mencari-cari kesalahan supaya dapat duit
di internet. Pemikiran seperti itu sangat wajar bagi semua pengguna jalan khususnya kendaraan bermotor, baik itu beroda dua ataupun lebih dari dua. Mengapa saya katakan wajar? Karena memang seperti itulah image yang telah terbangun pada masyarakat tentang keberadaan polisi, khususnya polisi lalu lintas.
Berurusan dengan polisi lalu lintas, tentu saja waktu perjalanan menjadi terbuang atau bahkan pada keesokan hari atau minggu depan harus datang ke kota tempat kejadian perkara untuk menyelesaikan sidang di pengadilan, untuk mendapatkan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) ataupun Surat Ijin Mengemudi (SIM) yang ditahan sebagai barang jaminan. Bagi seorang yang sibuk dimana waktu adalah sesuatu yang berharga, maka kesemuanya itu merupakan hal yang sangat tidak mengenakkan, dan sangat membuang-buang waktu.
Semua pengguna jalan pasti ingin terbebas dari yang namanya berurusan dengan polisi lalu lintas, yang selain menghabiskan atau membuang waktu, terkadang juga harus mengeluarkan uang untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Uang yang dikeluarkan tersebut akan dimasukkan sebagai penghasilan pribadi atau untuk negara, tentu saja hampir sama hasilnya, yaitu kehilangan uang dari sang pengguna jalan yang melanggar aturan lalu lintas yang berlaku.
Dalam tulisan ini saya akan memberikan tips dan trik supaya para pengguna jalan khususnya sepeda motor terhindar dari permasalahan yang berhubungan dengan polisi lalu lintas. Saya hanya akan membahas untuk sepeda motor, karena cukup berpengalaman untuk menghindari urusan dengan polisi lalu lintas, sedangkan untuk mobil saya masih sering kena tilang. Semoga tulisan ini berguna bagi semua pengguna jalan. Read The End Of This Entry